">

Pabrik Rokok Praoe Lajar Kota Tua Semarang Yang Melegenda

Bila Anda mengunjungi Kota Lama Semarang akan bertemu dengan Pabrik Rokok  Prau Layar di sekitar kawasan Polder Tawang di Kota Lama Semarang di Jalan Merak, Kota Lama Semarang.

Deretan bangunan tua di jalan Merak, daerah Polder Tawang Kota Tua SemarangSalah satu di deretan bangunan cantik tersebut, ada sebuah bangunan dengan nama berwarna merah darah, dan benar-benar terawat. Namanya “Pabrik Rokok Peraoe Lajar”.

Bangunan dari jaman pemerintahan kolonial Belanda. Dengan papan nama berwarna merah, cukup terawat. Suasananya waktu itu, cukup sepi walau didepannya berjejer sepeda motor, para karyawannya.Saat mengantar saudara sepupu Bernadeta Hapsari dengan suaminya dari belanda Matjiw kami sempat bincang-bincang dengan pemilik pabraik rokok tersebut.

Kami disambut dengan ramah untuk melihat proses pembuatan rokok ini.

Desain tempat rokok Praoe Lajar …..Kami dipertemukan dengan manajer pemasaran dan beliau cerita rokoknya sangat digemari di Karisidenan Pekalongan dan Tegal. Konsumennya lebih kepada para nelayan, kebanyakan dari Pekalongan, Pemalang, dan Tegal, sebuah kota kecil para nelayan, sekitar 2 jam dari Semarang ke arah barat Pulau Jawa.

Untuk bangunannya sendiri, “Parik Rokok Peraoe Lajar” sendiri merupakan bangunan yang tepat di jajaran Kota Tua Semarang, yang dibangun di masa pemerintahan kolonial Belanda. Dahulu, bangunan ini merupakan sebuah kantor.

Pemiliknya adalah Maintz & Co. Sebuah perusahaan energi swasta yang pertama mengembangkan jaringan listrik jaman Hindi Belanda. Perusahaan ini melayani kebutuhan listrik masyarakat di Pulau Jawa.

Maintz & Co memiliki beberapa anak perusahaan, salah satunya adalah NV Algemeene Nederlandsch Indissche-Electiciteits-Maatschappij (ANIEM), yang didirikan tahun 1909. Tanggal 2 Mei 1959, perusahaan ini dinasionalisasikan. Setelah itu, kantor Maintz & Co di Semarang digunakan sebagai kantor dan pabrik untuk rokok Peraoe Lajar, sampai sekarang.

Bukan hanya ‘pabrik rokoknya’. Di mana semakin pabrik ini bisa memproduksi rokok (lokal), walau “hanya” untuk kalangan nelayan (menengah kebawah), akan menjadi luar biasa jika ada dukungan pemerintah. Sehingga rokok tua ini justru bisa sebagai”heritage” rokok2 tua Indonesia.

Lalu juga tentang bangunan tuanya. Di mana sebagai arsitek aku sangat menghargai bangunan, terutama bangunan tua sebagai heritage. Sehingga, ketika aku berkeliling di Kota Tua Semarang dan melihat jejeran bangunan itu, pikiranku membayangkan bagaimana masa keemasan lingkungan tersebut.

Pintu pagar bangunan utama, didesain dengan ‘perahu layar terkembang’, logo rokok Praoe Lajar. Entah, sejak tahun berapa pintu pagar ini sudah ada. Apakah sejak tahun 1959, ketika  dimulainya dipakai sebagai pabrik rokok, atau…?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*